Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul setiap kali membahas kemiskinan.
"Kalau hidup saja susah, kenapa masih punya banyak anak?"
Sekilas terdengar seperti pertanyaan yang logis. Padahal sering kali, pertanyaan itu bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk mencari kambing hitam.
Begitu pertanyaan itu keluar, orang langsung menyimpulkan bahwa penyebab kemiskinan adalah keputusan keluarga miskin sendiri. Persoalan dianggap selesai. Tidak perlu lagi membahas pendidikan, kesehatan, pekerjaan, atau kebijakan pemerintah.
Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Kemiskinan bukan sekadar soal dompet yang tipis. Kemiskinan adalah kondisi ketika hampir setiap pilihan hidup menjadi serba terbatas.
Anak Bukan Selalu Beban, Kadang Menjadi Harapan
Bagi keluarga yang hidup berkecukupan, anak memang membutuhkan biaya besar.
Namun bagi keluarga yang hidup dalam ketidakpastian, cara pandangnya bisa berbeda.
Di daerah yang lapangan kerjanya sempit, tidak ada jaminan pensiun, dan pendapatan tidak menentu, anak sering dianggap sebagai harapan di masa depan. Bukan karena orang tua ingin "memanfaatkan" anak, tetapi karena memang tidak ada sistem yang menjamin kehidupan mereka saat tua.
Ketika negara tidak memberi rasa aman, keluarga berusaha menciptakan rasa aman dengan cara mereka sendiri.
Ironisnya, kita sering lebih mudah menyalahkan keputusan mereka daripada mempertanyakan mengapa mereka tidak memiliki pilihan lain.
Hidup yang Tidak Pasti Membuat Orang Mengambil Keputusan Berbeda
Bayangkan hidup di lingkungan yang akses kesehatannya minim.
Risiko bayi meninggal lebih tinggi.
Risiko sakit lebih besar.
Risiko kehilangan pekerjaan selalu mengintai.
Dalam kondisi seperti itu, cara orang mengambil keputusan tentu berbeda dengan mereka yang hidup nyaman.
Sayangnya, masyarakat sering hanya melihat hasil akhirnya: jumlah anak yang banyak.
Yang jarang dilihat adalah ketidakpastian hidup yang melatarbelakanginya.
Pendidikan Perempuan Masih Menjadi Kemewahan
Kita sering mendengar bahwa pendidikan perempuan berpengaruh terhadap jumlah kelahiran.
Itu benar.
Masalahnya, perempuan dari keluarga miskin justru lebih sering putus sekolah lebih cepat.
Kesempatan kerja lebih sedikit.
Informasi mengenai kesehatan reproduksi juga lebih terbatas.
Ketika akses pendidikan dipersempit, pilihan hidup pun ikut menyempit.
Lalu kita heran mengapa siklus kemiskinan terus berulang.
Kenapa Tidak Pakai KB?
Ini mungkin pertanyaan yang paling sering muncul.
Jawabannya sederhana.
Karena tidak semua orang benar-benar memiliki akses yang mudah terhadap layanan KB.
Ada yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.
Ada yang tidak memiliki informasi yang cukup.
Ada pula yang terkendala biaya, budaya, atau keputusan dalam rumah tangga.
Bertanya "kenapa tidak pakai KB?" kepada mereka kadang seperti bertanya, "kenapa tidak naik pesawat?" kepada orang yang bahkan bandara terdekat berjarak ratusan kilometer.
Masalahnya bukan kemauan saja.
Masalahnya adalah akses.
Lingkaran yang Sulit Diputus
Keluarga besar memang bisa membuat beban ekonomi semakin berat.
Pengeluaran bertambah.
Biaya sekolah meningkat.
Kebutuhan kesehatan ikut naik.
Akibatnya, kesempatan keluar dari kemiskinan semakin kecil.
Lalu kemiskinan itu kembali melahirkan kondisi yang sama pada generasi berikutnya.
Inilah yang sering disebut sebagai lingkaran kemiskinan.
Sayangnya, kita lebih sering menyalahkan orang yang berada di dalam lingkaran daripada memperbaiki tembok yang mengurung mereka.
Yang Paling Banyak Menanggung Akibat Adalah Anak Perempuan
Ketika uang terbatas, sering kali ada anak yang harus mengalah.
Dan dalam banyak kasus, anak perempuanlah yang lebih dulu kehilangan kesempatan sekolah.
Sebagian harus membantu pekerjaan rumah.
Sebagian menikah lebih muda.
Sebagian lagi kehilangan kesempatan membangun masa depan yang lebih baik.
Jadi persoalannya bukan sekadar berapa banyak anak yang lahir.
Persoalannya adalah berapa banyak mimpi yang akhirnya tidak pernah sempat tumbuh.
Mungkin Pertanyaan Kita Selama Ini Keliru
Daripada terus bertanya,
"Kenapa orang miskin punya banyak anak?"
mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa layanan kesehatan belum menjangkau semua orang?
Mengapa pendidikan masih sulit diakses oleh keluarga miskin?
Mengapa pekerjaan yang layak masih menjadi kemewahan bagi banyak orang?
Mengapa perlindungan sosial belum cukup membuat keluarga merasa aman menghadapi masa depan?
Karena pada akhirnya, keluarga miskin bukan sedang bermain-main dengan masa depan mereka.
Mereka sedang bertahan hidup dengan pilihan yang sangat terbatas.
Dan mungkin, yang paling perlu kita ubah bukanlah cara mereka mengambil keputusan.
Melainkan sistem yang membuat pilihan baik menjadi begitu mahal, sementara pilihan yang penuh risiko justru menjadi satu-satunya jalan yang tersedia.