Di tengah derasnya arus film horor Indonesia yang mengandalkan rumah angker, ritual mistis, dan hantu berambut panjang, Setan Alas! (2023) hadir sebagai anomali.
Film garapan Yusron Fuadi ini tidak sekadar ingin menakut-nakuti penonton, tetapi juga mengajak mereka mempertanyakan aturan-aturan yang selama ini dianggap baku dalam genre horor.
Alih-alih mengikuti formula yang sudah terbukti laris, Setan Alas! justru membongkar formula tersebut dari dalam. Hasilnya adalah sebuah film yang lebih mengutamakan gagasan daripada teror, lebih mengandalkan permainan konsep dibanding ledakan jumpscare.
Premis yang Sengaja Terlihat Klise
Pada awal cerita, penonton disuguhi premis yang terasa sangat familiar. Sekelompok mahasiswa menghabiskan waktu di sebuah vila terpencil yang berada di tengah hutan. Jalan menuju lokasi sunyi, sinyal telepon menghilang, penjaga vila tampak mencurigakan, dan berbagai kejadian aneh mulai bermunculan.
Bagi penikmat horor Indonesia, semua elemen tersebut terasa seperti daftar wajib yang hampir selalu muncul dalam film sejenis.
Namun justru di situlah letak kejeniusan Setan Alas!. Film ini sengaja membangun ekspektasi bahwa penonton akan mendapatkan kisah horor konvensional, sebelum kemudian menghancurkan seluruh ekspektasi tersebut.
Perlahan, para tokoh mulai menyadari bahwa kehidupan mereka seolah dikendalikan oleh sebuah skenario. Mereka mempertanyakan mengapa keputusan bodoh terus terjadi, mengapa kematian datang dengan pola yang sama, dan mengapa setiap usaha untuk keluar selalu gagal.
Konflik utama pun berubah. Ancaman terbesar bukan lagi makhluk gaib yang menghuni hutan, melainkan "naskah" yang memaksa mereka menjalani takdir sebagai korban.
Meta-Horror yang Jarang Ditemukan di Indonesia
Istilah meta-horror mungkin belum begitu akrab bagi sebagian penonton Indonesia. Genre ini menggambarkan film yang sadar bahwa dirinya adalah sebuah film, lalu menggunakan kesadaran tersebut sebagai bagian dari cerita.
Pendekatan semacam ini pernah dipopulerkan oleh film-film seperti Scream maupun The Cabin in the Woods. Di Indonesia, konsep tersebut masih sangat jarang diangkat.
Yusron Fuadi memanfaatkan pendekatan ini untuk mengajak penonton melihat bagaimana formula horor bekerja. Karakter tidak hanya melawan hantu, tetapi juga melawan aturan cerita yang memenjarakan mereka.
Pertanyaan sederhana yang diajukan film ini menjadi sangat menarik:
"Bagaimana jika tokoh dalam film menolak menjalankan skenario yang telah ditulis untuk mereka?"
Pertanyaan tersebut menjadi fondasi yang membuat Setan Alas! terasa berbeda dibanding sebagian besar horor Indonesia.
Satir untuk Industri Horor Indonesia
Di balik lapisan horornya, Setan Alas! sebenarnya merupakan kritik terhadap industri film horor itu sendiri.
Film ini menyindir berbagai pola yang selama bertahun-tahun terus diulang, mulai dari karakter yang selalu berpisah sendirian ketika situasi berbahaya, keputusan tidak masuk akal yang hanya bertujuan memajukan cerita, hingga penggunaan jumpscare sebagai jalan pintas untuk menciptakan rasa takut.
Sindiran tersebut tidak disampaikan secara menggurui. Sebaliknya, kritik muncul melalui dialog, situasi, dan perkembangan cerita sehingga terasa menghibur sekaligus menggelitik.
Film seolah berkata bahwa penonton selama ini telah terbiasa menerima berbagai kejanggalan dalam film horor tanpa pernah mempertanyakannya.
Penyutradaraan yang Mengutamakan Ide
Yusron Fuadi tampaknya sadar bahwa kekuatan utama film ini bukan berasal dari anggaran besar ataupun efek visual yang spektakuler.
Penyutradaraannya lebih menonjolkan kekuatan konsep. Dengan lokasi yang relatif terbatas dan ruang gerak yang sederhana, ia mampu menjaga ritme cerita agar tetap menarik.
Beberapa keterbatasan produksi memang masih terlihat. Namun alih-alih menjadi kelemahan fatal, keterbatasan tersebut justru memperkuat identitas film sebagai karya yang lebih mengutamakan kreativitas daripada kemewahan produksi.
Terlihat jelas bahwa film ini lahir dari keberanian mengeksplorasi ide, bukan dari ambisi menghadirkan tontonan horor yang megah.
Sinematografi yang Fungsional
Secara visual, Setan Alas! memang belum mencapai kualitas sinematografi film horor beranggaran besar.
Beberapa adegan malam kehilangan detail, komposisi gambar kadang terasa sederhana, dan pencahayaan tidak selalu maksimal.
Meski demikian, kamera bukan sekadar alat untuk merekam adegan. Dalam beberapa bagian, posisi kamera bahkan menjadi bagian dari permainan cerita ketika karakter mulai menyadari keberadaan "seseorang" yang mengawasi mereka.
Pendekatan tersebut membuat sinematografi memiliki fungsi naratif, bukan sekadar fungsi estetika.
Penampilan Para Pemain
Dari sisi akting, kualitas penampilan para pemain masih cukup beragam.
Ada pemain yang mampu membangun emosi secara natural, tetapi ada pula yang penyampaian dialognya masih terasa kaku.
Menariknya, kekakuan tersebut kadang justru mendukung konsep film. Karena para tokoh digambarkan seperti sedang dipaksa memainkan sebuah peran, dialog yang terdengar artifisial terkadang memperkuat nuansa bahwa mereka hanyalah karakter dalam sebuah skenario.
Meski begitu, tidak semua adegan berhasil memanfaatkan efek tersebut sehingga pada beberapa momen akting tetap terasa kurang meyakinkan.
Horor yang Lebih Mengajak Berpikir
Bagi penonton yang mencari pengalaman horor penuh teriakan dan jumpscare, Setan Alas! mungkin terasa kurang memuaskan.
Film ini lebih tertarik menciptakan rasa tidak nyaman melalui absurditas dan pertanyaan filosofis mengenai kebebasan karakter di dalam sebuah cerita.
Ketegangan muncul bukan semata karena keberadaan makhluk menyeramkan, melainkan karena dunia yang perlahan kehilangan logikanya sendiri.
Horor dalam film ini bekerja secara psikologis dan konseptual, bukan sekadar visual.
Kekurangan yang Tetap Terasa
Keberanian bereksperimen tentu membawa konsekuensi.
Pada babak akhir, film menjadi sangat ambisius sehingga aturan dunia yang sebelumnya dibangun mulai kehilangan konsistensi.
Perpindahan antara horor, komedi, aksi, dan satire tidak selalu berjalan mulus. Penonton yang belum terbiasa dengan film berkonsep meta kemungkinan akan merasa cerita terlalu membingungkan atau bahkan berantakan.
Meski sebagian besar kekacauan tersebut memang disengaja, ada beberapa bagian yang terasa belum sepenuhnya matang dari sisi penulisan.
Kesimpulan
Setan Alas! bukanlah film horor yang mengejar jumlah jumpscare atau penampakan makhluk gaib sebanyak mungkin.
Film ini lebih tertarik mengajak penonton melihat bagaimana sebuah film horor dibangun, lalu mempertanyakan apakah semua aturan itu benar-benar harus selalu diikuti.
Tidak semua eksperimennya berhasil. Beberapa aspek teknis masih menyisakan kekurangan. Namun keberanian Yusron Fuadi menghadirkan sesuatu yang berbeda patut diapresiasi.
Di tengah industri yang cenderung bermain aman dengan formula yang sama, Setan Alas! tampil sebagai karya yang berani mengambil risiko. Ia mungkin tidak akan menjadi film horor paling menyeramkan, tetapi sangat layak dikenang sebagai salah satu film horor Indonesia paling orisinal dalam beberapa tahun terakhir.
Penilaian
Cerita: 9,5/10
Skenario: 9/10
Penyutradaraan: 9/10
Sinematografi: 7,5/10
Akting: 7,5/10
Horor: 7/10
Orisinalitas: 10/10
Nilai Akhir: 8,8/10
Setan Alas! adalah bukti bahwa horor tidak selalu harus menakutkan untuk menjadi menarik. Film ini justru paling bersinar ketika membongkar dan menertawakan aturan-aturan genre yang selama ini dianggap sakral.