Pernahkah Anda mendengar kisah seseorang yang mencintai orang lain selama bertahun-tahun, padahal mereka hampir tidak pernah berbicara, apalagi menjalin hubungan? Yang lebih mengejutkan, orang yang dicintai bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa dirinya menjadi pusat dunia seseorang.
Sekilas, kisah seperti ini terdengar seperti adegan dalam film romantis. Namun dalam psikologi, fenomena tersebut bukan sekadar soal belum move on atau terlalu baper.
Ada konsep yang menjelaskan kondisi ini, yaitu limerence—keadaan ketika seseorang mengalami ketertarikan romantis yang sangat intens, tidak berbalas, dan sering kali berubah menjadi keterikatan yang sulit dikendalikan.
Ketika Cinta Tidak Lagi Bergantung pada Kenyataan
Banyak orang mengira cinta hanya bisa bertahan jika ada hubungan yang nyata. Padahal, dalam limerence, justru yang bertahan bukan hubungan itu sendiri, melainkan kemungkinan hubungan tersebut.
Seseorang tidak terus memikirkan karena memiliki banyak kenangan bersama. Sebaliknya, ia mempertahankan sosok itu di dalam pikirannya. Ia membayangkan percakapan yang tidak pernah terjadi, mengulang kemungkinan-kemungkinan kecil, menafsirkan setiap isyarat sebagai harapan, lalu terus memelihara angan bahwa suatu hari semuanya akan berubah.
Scoping review yang diterbitkan pada 2024 mendefinisikan limerence sebagai keadaan emosi yang sangat kuat terhadap seseorang yang tidak membalas perasaan tersebut. Para peneliti juga menyoroti bahwa penelitian mengenai limerence masih relatif sedikit, sehingga banyak orang salah memahami kondisi ini.
Akibatnya, orang yang mengalaminya sering dianggap hanya kurang sibuk, kurang percaya diri, atau sengaja tidak ingin melupakan masa lalu. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Mengapa Semakin Sulit Diraih Justru Semakin Sulit Dilupakan?
Salah satu penjelasan paling kuat datang dari Attachment Theory.
Psikolog Cindy Hazan dan Phillip Shaver mengemukakan bahwa cinta romantis sebenarnya merupakan bentuk keterikatan (attachment) yang memiliki akar biologis dan psikologis yang sama seperti hubungan anak dengan pengasuhnya.
Artinya, ketika seseorang jatuh cinta, ia tidak hanya tertarik pada wajah, sifat, atau kepribadian orang tersebut. Ia juga mulai menghubungkan sosok itu dengan berbagai kebutuhan emosional, seperti rasa aman, kenyamanan, penerimaan, hingga harapan akan masa depan.
Masalah muncul ketika semua kebutuhan itu dilekatkan kepada seseorang yang sebenarnya tidak pernah hadir dalam kehidupannya.
Alih-alih menghilang, ketiadaan balasan justru dapat membuat figur tersebut semakin penting. Otak terus menganggap bahwa kebahagiaan akan datang "jika suatu hari nanti" hubungan itu terwujud.
Peran Attachment Style: Mengapa Ada Orang yang Lebih Rentan?
Tidak semua orang mengalami cinta tak berbalas dengan intensitas yang sama.
Penelitian Aron dan rekan-rekannya menemukan bahwa kejadian cinta yang tidak terbalas lebih sering ditemukan pada individu dengan attachment anxious atau anxious-ambivalent.
Orang dengan pola kelekatan ini umumnya memiliki beberapa karakteristik, seperti:
sangat sensitif terhadap penolakan,
mudah cemas ketika hubungan terasa tidak pasti,
sering mencari kepastian emosional,
sulit mengakhiri harapan meskipun peluangnya sangat kecil.
Akibatnya, ketidakjelasan hubungan justru menjadi bahan bakar bagi pikiran mereka.
Semakin sedikit kepastian, semakin banyak ruang untuk berpikir.
Semakin banyak berpikir, semakin besar pula rasa cintanya.
Terbentuklah sebuah lingkaran yang terus berulang tanpa disadari.
Mengapa Bisa Bertahan Bertahun-Tahun Meski Hampir Tidak Pernah Bertemu?
Inilah bagian yang paling menarik.
Semakin sedikit seseorang mengenal orang yang dicintainya, semakin sedikit pula kenyataan yang bisa mengoreksi imajinasinya.
Otak manusia tidak menyukai kekosongan informasi. Ketika data nyata sangat minim, otak akan mengisinya sendiri.
Lama-kelamaan terbentuklah versi ideal dari orang tersebut.
Dalam bayangan, ia selalu baik.
Selalu memahami.
Selalu cocok.
Selalu menjadi pasangan yang sempurna.
Padahal kenyataannya belum tentu demikian.
Penelitian mengenai hubungan jarak jauh menunjukkan bahwa idealisasi pasangan cenderung meningkat ketika interaksi langsung sangat terbatas. Ketika akhirnya pasangan benar-benar bertemu, idealisasi yang terlalu tinggi justru sering berbenturan dengan realitas.
Pada limerence, mekanismenya hampir sama. Bedanya, hubungan nyata mungkin bahkan tidak pernah dimulai. Karena tidak ada pengalaman yang mampu mengoreksi bayangan tersebut, versi ideal itu dapat bertahan selama bertahun-tahun.
Otak Lebih Menyukai Harapan daripada Fakta
Mengapa seseorang tetap bertahan walaupun peluangnya hampir tidak ada?
Penelitian Aron menunjukkan bahwa intensitas cinta tak berbalas dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
seberapa berharganya hubungan itu di mata seseorang,
seberapa besar kemungkinan hubungan tersebut masih dianggap bisa terjadi,
dan seberapa besar keinginan seseorang untuk tetap berada dalam keadaan jatuh cinta.
Dengan kata lain, otak tidak selalu mengejar kenyataan.
Sering kali yang dikejar justru kemungkinan.
Harapan kecil—meskipun hampir mustahil—dapat menjadi hadiah psikologis yang terus membuat seseorang bertahan.
Inilah alasan mengapa pesan singkat, tatapan sesaat, atau interaksi yang sebenarnya biasa saja bisa terasa sangat berarti bagi orang yang sedang mengalami limerence.
Ketika Cinta Berubah Menjadi Beban Psikologis
Tidak semua limerence bersifat berbahaya. Banyak orang mampu melewatinya seiring waktu.
Namun pada sebagian kasus, kondisi ini berkembang menjadi sumber penderitaan yang nyata.
Penelitian tahun 2026 menemukan bahwa limerence yang berat sering berkaitan dengan:
insecure attachment,
kecenderungan obsesif-kompulsif,
ruminasi yang terus berulang,
serta tingkat stres psikologis yang lebih tinggi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini bukan hanya berarti "sering kepikiran".
Pikiran mengenai orang tersebut muncul tanpa diundang.
Sulit dihentikan.
Menguras energi.
Mengganggu konsentrasi.
Bahkan ketika seseorang tetap bekerja, kuliah, atau menjalani aktivitas normal, sebagian besar ruang mentalnya masih dipenuhi oleh sosok yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hadir dalam kehidupannya.
Bisakah Limerence Diatasi?
Kabar baiknya, ya.
Walaupun penelitian mengenai limerence masih berkembang, beberapa hasil awal menunjukkan bahwa terapi, terutama Cognitive Behavioral Therapy (CBT), dapat membantu mengurangi intensitasnya.
Dalam sebuah studi kasus, terapi berhasil menurunkan ritual kompulsif serta pikiran-pikiran disfungsional terhadap objek cinta hingga sembilan bulan setelah terapi selesai.
Hal ini masuk akal.
Jika limerence dipelihara oleh pola pikir yang berulang, idealisasi yang berlebihan, dan kebutuhan validasi emosional, maka mengubah cara berpikir dan perilaku dapat membantu memutus lingkaran tersebut.
Tujuan terapi bukan membuat seseorang berhenti mencintai secara paksa, melainkan membantu membedakan antara orang yang nyata dengan versi ideal yang selama ini hidup di dalam pikiran.
Penutup
Pada akhirnya, seseorang bisa mencintai orang yang bahkan tidak tahu dirinya ada karena cinta tidak selalu tumbuh dari kedekatan. Terkadang, ia tumbuh dari ruang yang jauh lebih sunyi: imajinasi, harapan, dan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Yang dipertahankan selama bertahun-tahun bukan selalu sosok tersebut sebagai manusia utuh, melainkan gambaran ideal yang dibangun sedikit demi sedikit oleh pikiran sendiri. Jarak membuat gambaran itu sulit dipatahkan, ketidakpastian membuat harapan terus hidup, dan kebutuhan emosional menjadikannya terasa semakin penting.
Karena itulah cinta tak berbalas bisa terasa begitu nyata bagi orang yang mengalaminya, meskipun dari sudut pandang orang lain hubungan itu tampak tidak pernah benar-benar ada.
Memahami limerence bukan berarti membenarkan keterikatan yang tidak sehat. Sebaliknya, pemahaman ini membantu kita melihat bahwa di balik cinta yang tampak "berlebihan" sering kali tersembunyi mekanisme psikologis yang kompleks. Dengan mengenali proses tersebut, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk melepaskan diri dari lingkaran harapan yang tidak berujung dan mulai membangun hubungan yang nyata, sehat, serta saling membalas.