Dunia media sosial kembali dihebohkan oleh kontroversi yang melibatkan kreator konten Ebe Martono (Emanuel Bryan). Kasus ini menjadi viral bukan semata karena sebuah video, melainkan karena rangkaian dugaan tindakan yang dinilai melanggar etika, menyangkut privasi, hingga cara menangani keberatan dari pihak yang merasa dirugikan.
Awal Mula Kontroversi
Polemik bermula setelah seorang usher yang bekerja di ajang GIIAS 2026 mengunggah kronologi pengalamannya di Threads. Ia mengaku menjadi objek utama dalam sebuah video bertema "cara mendekati cewek di pameran" tanpa pernah mengetahui bahwa dirinya sedang direkam.
Menurut pengakuannya, interaksi yang ia kira hanyalah percakapan biasa dengan pengunjung ternyata direkam menggunakan kamera tersembunyi yang disebut terpasang pada kacamata. Ia baru mengetahui rekaman tersebut setelah videonya beredar di media sosial.
Mengapa Kasus Ini Viral?
Kasus ini meledak karena publik menilai persoalannya bukan sekadar merekam di tempat umum.
Beberapa alasan yang membuat kemarahan warganet semakin besar antara lain:
Korban disebut menjadi fokus utama video, bukan sekadar orang yang kebetulan terekam.
Tidak ada persetujuan (consent) sebelum wajah dan interaksi dipublikasikan.
Video menggunakan narasi yang dinilai dapat menimbulkan kesan tertentu terhadap korban.
Korban mengaku merasa tidak nyaman setelah videonya menyebar luas di media sosial.
Bagi banyak pengguna media sosial, inti persoalan bukan berada pada lokasi perekaman, melainkan penggunaan seseorang sebagai objek utama konten tanpa persetujuannya.
Dugaan Permintaan Uang untuk Menghapus Video
Kontroversi semakin membesar setelah muncul dugaan bahwa beberapa usher yang meminta videonya dihapus justru diminta membayar sejumlah uang sebagai pengganti biaya produksi konten.
Klaim tersebut memicu reaksi keras dari publik karena dianggap tidak pantas apabila benar terjadi. Hingga kini, tuduhan tersebut menjadi salah satu aspek yang paling banyak diperbincangkan dan ikut memperbesar kontroversi.
Respons Tokoh Publik
Kasus ini tidak hanya menjadi pembahasan warganet.
Influencer Jerome Polin mengaku pernah direkam oleh kreator yang sama tanpa menyadari proses perekaman berlangsung, meski dalam kasusnya ia tidak mempermasalahkan isi videonya.
Sementara itu, Arnold Poernomo mengkritik anggapan bahwa semua orang di ruang publik otomatis boleh dijadikan konten. Menurutnya, berada di tempat umum tidak berarti seseorang kehilangan hak atas privasinya.
Sorotan Hukum
Kasus ini juga mendapat perhatian dari Ketua Komisi III DPR yang menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan etika, tetapi juga berpotensi memiliki aspek hukum apabila seseorang dijadikan objek konten untuk kepentingan publikasi atau komersial tanpa persetujuan. Ia menyebut beberapa regulasi dapat menjadi dasar apabila korban memilih menempuh jalur hukum.
Permintaan Maaf
Setelah kontroversi meluas, Ebe Martono mengunggah video permintaan maaf melalui media sosialnya.
Dalam pernyataannya, ia mengatakan konten tersebut awalnya dibuat sebagai bentuk hiburan dan bertujuan mendorong orang agar lebih berani berkenalan dengan orang baru. Ia juga meminta maaf kepada seluruh pihak yang merasa dirugikan dan menyatakan akan memperbaiki diri ke depan.
Mengapa Publik Begitu Marah?
Banyak komentar di media sosial menunjukkan bahwa kemarahan publik bukan hanya dipicu oleh satu video.
Yang menjadi sorotan adalah kombinasi beberapa hal sekaligus:
Dugaan perekaman tanpa persetujuan.
Penggunaan kamera yang tidak disadari oleh lawan bicara.
Publikasi wajah seseorang sebagai objek utama konten.
Dugaan permintaan uang untuk menghapus video.
Alasan bahwa perekaman dilakukan di ruang publik yang dinilai sebagian masyarakat tidak cukup untuk membenarkan tindakan tersebut.
Karena itulah, kasus ini berkembang dari sekadar kritik terhadap seorang kreator konten menjadi diskusi nasional mengenai batas etika pembuatan konten di era media sosial, terutama terkait pentingnya menghormati privasi dan memperoleh persetujuan sebelum menjadikan seseorang sebagai pusat sebuah konten.