Ketika Penghuni Paling Buas Ternyata Bukan yang Berada di Dalam Kandang

Berita

Sunday, 26 July 2026

Aira

Aira

@airaalesyha

0

Ketika Penghuni Paling Buas Ternyata Bukan yang Berada di Dalam Kandang

Kebun binatang seharusnya menjadi tempat manusia belajar tentang alam. Anak-anak datang untuk melihat singa, harimau, gajah, dan orangutan. Orang tua mengajarkan bahwa hewan buas memiliki naluri berburu, tetapi hanya untuk bertahan hidup.

Sayangnya, belakangan publik justru mendapat pelajaran yang berbeda. Dugaan korupsi yang menjerat mantan Direktur Utama Kebun Binatang Surabaya, Choirul Anwar, menghadirkan ironi yang sulit ditandingi. Tempat yang semestinya menjadi simbol konservasi justru terseret dalam perkara yang berkaitan dengan pengelolaan anggaran.

Semua tuduhan tentu masih harus dibuktikan di pengadilan. Namun, ironi itu sudah telanjur hidup di benak masyarakat: jangan-jangan satwa paling buas memang bukan yang tinggal di balik jeruji.

Predator Tidak Selalu Bertaring

Seekor singa memangsa zebra karena lapar.

Seekor harimau mengejar rusa karena itulah cara alam bekerja.

Buaya menerkam mangsanya karena begitulah hukum rimba.

Tidak ada singa yang menyimpan seratus zebra demi memperkaya dirinya. Tidak ada harimau yang memalsukan jejak kaki agar buruannya terlihat sah. Hewan hanya mengambil seperlunya.

Manusia, ironisnya, sering mengaku sebagai makhluk paling berakal.

Tetapi setiap kali muncul perkara korupsi, akal itu tampaknya sedang mengambil cuti panjang.

Ketika Anggaran Menjadi Mangsa

Dalam perkara yang kini ditangani aparat penegak hukum, penyidik menduga terdapat penyimpangan pengelolaan keuangan yang menyebabkan kerugian negara miliaran rupiah. Jika dugaan itu terbukti di pengadilan, maka yang hilang bukan sekadar angka dalam laporan keuangan.

Yang ikut hilang adalah kepercayaan publik.

Setiap rupiah yang diduga diselewengkan bukan hanya kehilangan nilai uangnya. Ia kehilangan tujuan awalnya.

Dana yang semestinya dipakai untuk menjalankan fungsi kebun binatang berubah menjadi simbol betapa rapuhnya integritas ketika bertemu kesempatan.

Ironinya, korupsi hampir selalu dibungkus dengan istilah yang terdengar sopan.

"Administrasi."

"Pertanggungjawaban."

"Dokumen."

Padahal, masyarakat lebih mengenalnya dengan satu kata yang jauh lebih sederhana: mengambil yang bukan haknya.

Satwa Tidak Pernah Bisa Mengajukan Keberatan

Bayangkan jika penghuni kebun binatang bisa berbicara.

Harimau mungkin akan bertanya mengapa kandangnya kurang terawat.

Orangutan mungkin ingin tahu mengapa fasilitasnya tak kunjung membaik.

Gajah mungkin hanya diam, tetapi diamnya menyimpan pertanyaan yang tidak pernah dijawab.

Masalahnya, satwa tidak memiliki kuasa.

Mereka tidak bisa menggelar konferensi pers.

Tidak bisa membuat unggahan panjang di media sosial.

Tidak bisa memberikan kesaksian di ruang sidang.

Mereka hanya bisa bergantung pada manusia yang dipercaya mengelola kehidupan mereka.

Dan ketika kepercayaan itu retak, yang paling dirugikan justru makhluk yang bahkan tidak memahami apa itu korupsi.

Jabatan Adalah Amanah, Bukan Tiket VIP

Di negeri ini, jabatan sering kali diperlakukan seperti hadiah.

Begitu duduk di kursi empuk, sebagian orang mendadak lupa bahwa kursi itu dibeli dari uang rakyat.

Padahal jabatan hanyalah amanah dengan masa berlaku.

Sayangnya, ada yang memperlakukannya seperti kartu anggota eksklusif menuju gudang anggaran.

Semakin besar kewenangan, semakin besar pula godaan untuk menganggap uang publik sebagai fasilitas pribadi.

Lalu ketika kasus mencuat, kalimat yang muncul hampir selalu sama.

"Saya menghormati proses hukum."

Kalimat yang terdengar begitu sopan setelah semuanya terlambat.

Kebun Binatang atau Cermin Negeri?

Kasus seperti ini sebenarnya bukan hanya tentang satu orang.

Ia adalah cermin.

Cermin yang menunjukkan bahwa masalah terbesar bangsa ini bukan kekurangan aturan, melainkan kekurangan rasa malu.

Undang-undang dibuat semakin tebal.

Pengawasan semakin banyak.

Lembaga semakin lengkap.

Namun, korupsi tetap muncul dengan kreativitas yang bahkan mungkin membuat ilmuwan kagum.

Jika inovasi bangsa diarahkan untuk hal-hal yang bermanfaat, mungkin Indonesia sudah menjadi negara maju.

Sayangnya, sebagian energi justru habis untuk mencari celah.

Ternyata Kandang Tidak Selalu Berjeruji

Selama ini kita mengira kandang adalah tempat hewan buas dikurung.

Ternyata tidak selalu begitu.

Ada kandang yang bernama jabatan.

Ada kandang yang bernama kekuasaan.

Ada kandang yang dindingnya bukan besi, melainkan ambisi.

Kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Direktur Utama Kebun Binatang Surabaya seharusnya menjadi pengingat bahwa integritas jauh lebih mahal daripada jabatan. Sebab jabatan akan berakhir, sementara nama baik sering kali harus menanggung akibat jauh lebih lama.

Dan mungkin, setelah semua ini, masyarakat akan datang ke kebun binatang dengan pertanyaan yang berbeda.

Bukan lagi, "Di mana kandang singa?"

Melainkan,

"Apakah predator paling berbahaya memang pernah tinggal di balik jeruji, atau justru pernah duduk di balik meja kerja?"

Aira

Aira

@airaalesyha

Menulis sudah menjadi salah satu cara saya berbagi hal-hal yang saya pelajari. Saya suka mengemas informasi menjadi artikel yang ringan dan jelas.

Follow me

Artikel terkait

Komentar

(0)

Login untuk berkomentar.

ershanotes

Menghadirkan berita terbaru seputar politik, ekonomi, dan gaya hidup — cepat, akurat, dan terpercaya.

Telp: (0517)32016

Email: email@mail.ersha.my.id

Indeks

Beranda

Informasi

Program

Pelayanan

Kontak

Tambahan

Penghargaan

Berita

Profil

Pengaduan

Galeri

Newsletter

Dapatkan pembaruan terkini seputar Kabupaten Tapin dengan bergabung bersama kami.

ERSHANOTES - seputar politik, ekonomi, dan gaya hidup

© Copyright 2026 All rights reserved. yes, all of them