Indonesia memang negara penuh kejutan. Ketika rakyat masih sibuk menghitung harga beras, mencari pekerjaan, dan bertanya kapan daya beli pulih, panggung tiba-tiba bergeser ke Semenanjung Korea.
Dalam sebuah pidato, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa jika diminta Presiden Korea Selatan untuk pergi ke Korea Utara demi membuka dialog, ia siap berangkat.
Kalimat itu langsung terdengar seperti trailer film diplomasi kelas dunia. Indonesia, yang bahkan masih berdebat soal jalan berlubang dan antrean layanan publik, kini seolah bersiap menjadi penengah salah satu konflik paling rumit di planet ini.
Luar biasa. Mungkin setelah Korea Utara dan Korea Selatan damai, giliran Timur Tengah. Kalau masih ada waktu, sekalian saja selesaikan perubahan iklim sebelum makan siang.
Namun yang lebih menarik justru respons dari Korea Selatan. Mereka kemudian menjelaskan bahwa Indonesia memang dipandang sebagai mitra yang dapat berkontribusi secara konstruktif dalam upaya perdamaian.
Penjelasan yang jauh lebih diplomatis dibanding euforia yang telanjur berkembang di ruang publik. Bahasa diplomasi memang sering sederhana, tetapi setelah melewati panggung politik, bunyinya bisa berubah seperti iklan film blockbuster.
Begitulah politik. Satu kalimat dapat berubah menjadi kisah kepahlawanan internasional, sementara kalimat klarifikasi sering datang belakangan dengan volume yang jauh lebih pelan.
Bukan berarti Indonesia tidak layak berperan dalam diplomasi. Sejak lama Indonesia memang menganut politik luar negeri bebas dan aktif. Tetapi publik juga berhak bertanya:
apakah menjadi juru damai dunia otomatis membuat persoalan di dalam negeri ikut damai?
Karena rakyat biasanya lebih cepat merasakan harga cabai daripada suhu hubungan Pyongyang dan Seoul. Mereka lebih sering berhadapan dengan tagihan listrik daripada rudal balistik. Dan mereka lebih membutuhkan lapangan kerja daripada kesempatan berfoto di meja perundingan.
Ironisnya, politik modern memang sering menyukai panggung internasional. Kamera dunia memberi sorotan yang jauh lebih terang dibanding lorong-lorong tempat rakyat mengantre pekerjaan. Diplomasi memang penting, tetapi jangan sampai terlihat seperti sedang mengejar tepuk tangan global ketika penonton di rumah masih menunggu penyelesaian masalah yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Kalau nanti benar Indonesia berhasil membantu mendamaikan Korea Utara dan Korea Selatan, tentu itu patut diapresiasi. Tetapi akan jauh lebih mengesankan bila pada saat yang sama rakyat juga merasakan bahwa konflik yang paling dekat dengan mereka harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan ikut menemukan jalan damainya.
Sebab sejarah mungkin akan mencatat siapa yang membantu perdamaian dunia. Tetapi rakyat akan selalu mengingat siapa yang lebih dulu berhasil mendamaikan isi dompet mereka.