Hampir setiap pidato Presiden Prabowo Subianto memiliki pola yang mudah dikenali. Di tengah pembahasan isu ekonomi, pangan, anggaran, hingga program pemerintah, ia kerap mengajak audiens berhitung secara langsung. Persentase, triliunan rupiah, jumlah penduduk, hingga hitung-hitungan sederhana menjadi bagian dari narasi yang berulang.
Strategi ini memang efektif menarik perhatian. Audiens menjadi lebih fokus karena diajak mengikuti alur logika yang sederhana. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah hitung-hitungan tersebut benar-benar memperjelas persoalan, atau justru menyederhanakan masalah yang jauh lebih kompleks?
Dalam beberapa pidato, Prabowo menggunakan ilustrasi matematika sederhana untuk menjelaskan efisiensi anggaran, potensi penghematan negara, hingga nilai ekonomi suatu kebijakan. Di kesempatan lain, ia mengaitkan angka-angka dengan contoh sehari-hari agar mudah dipahami masyarakat.
Secara retorika, pendekatan ini bukan hal yang keliru. Bahkan kajian mengenai retorika pidato Prabowo menunjukkan bahwa ia memadukan ethos, pathos, dan logos, termasuk penggunaan data serta angka untuk memperkuat argumentasi.
Namun, persoalan muncul ketika angka yang disampaikan tidak diikuti penjelasan mengenai sumber data, asumsi perhitungan, atau batasan analisis. Akibatnya, publik lebih mudah mengingat hasil hitungannya daripada memahami konteks yang melatarbelakanginya.
Masalah ekonomi negara tidak sesederhana operasi penjumlahan atau pengurangan. Menghemat anggaran memang dapat mengurangi pemborosan, tetapi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, kualitas pelayanan publik, dan investasi memerlukan analisis yang jauh lebih mendalam.
Begitu pula dalam isu pangan. Harga beras tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi. Ada faktor distribusi, cuaca, stok nasional, perdagangan internasional, nilai tukar, hingga kebijakan pemerintah. Ketika persoalan serumit itu dipadatkan menjadi hitung-hitungan singkat dalam pidato, ada risiko masyarakat memperoleh gambaran yang terlalu sederhana.
Di sisi lain, gaya berhitung ini juga memiliki nilai politik. Angka memberi kesan objektif dan ilmiah. Ketika seorang pemimpin menyebut nominal, persentase, atau melakukan perhitungan di depan publik, pesan yang disampaikan terdengar lebih meyakinkan meskipun audiens belum tentu memiliki kesempatan memeriksa validitasnya.
Karena itu, setiap angka yang keluar dari pidato seorang presiden seharusnya memenuhi standar yang tinggi: dapat ditelusuri sumbernya, konsisten dengan data resmi, dan terbuka untuk diuji oleh publik. Transparansi menjadi penting agar kepercayaan masyarakat tidak hanya dibangun melalui retorika, tetapi juga melalui akurasi.
Yang dibutuhkan publik bukan sekadar kemampuan berhitung di atas panggung. Yang lebih penting adalah kemampuan menjelaskan mengapa angka tersebut muncul, bagaimana metode penghitungannya, dan apakah hasilnya benar-benar tercermin dalam kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, pidato politik memang membutuhkan retorika. Namun, ketika angka menjadi alat utama untuk meyakinkan rakyat, angka tersebut harus mampu bertahan ketika diuji oleh fakta. Sebab, kepercayaan publik tidak dibangun dari hitungan yang terdengar masuk akal, melainkan dari data yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.