Belakangan ini media sosial ramai membahas fenomena yang dijuluki pidatomology. Istilah ini muncul karena beberapa kali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat melemah setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato, khususnya yang berkaitan dengan ekonomi.
Pertanyaannya, apakah benar pidato Presiden menjadi penyebab turunnya IHSG?
Saya mencoba melihat fenomena tersebut menggunakan pendekatan sederhana yang umum digunakan dalam penelitian pasar modal, yaitu event study.
Mengapa Fenomena Ini Menarik?
Pasar saham sangat sensitif terhadap informasi baru. Bukan hanya laporan keuangan perusahaan, tetapi juga pidato pejabat negara, keputusan bank sentral, hingga kondisi geopolitik dunia dapat memengaruhi keputusan investor.
Karena itu, wajar apabila setiap pidato Presiden mendapat perhatian pelaku pasar. Namun, perhatian pasar tidak selalu berarti pidato tersebut menjadi penyebab utama naik atau turunnya harga saham.
Pendekatan yang Digunakan
Dalam analisis ini saya menggunakan konsep event study, yaitu mengamati pergerakan IHSG pada tiga periode:
H-1 (satu hari sebelum pidato)
H (hari pidato)
H+1 (satu hari setelah pidato)
Tujuannya adalah melihat apakah terdapat pola perubahan yang konsisten setiap kali Presiden menyampaikan pidato.
Apa yang Ditemukan?
Dari beberapa peristiwa yang diamati, memang terdapat kejadian ketika IHSG mengalami pelemahan setelah Presiden Prabowo berpidato. Hal inilah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa pidato Presiden selalu berdampak negatif terhadap pasar saham.
Namun, jika dilihat lebih dalam, kondisi pasar pada saat itu juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang jauh lebih besar, antara lain:
Arus keluar modal asing (foreign outflow).
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ekspektasi kebijakan suku bunga global, terutama dari Federal Reserve.
Peninjauan status pasar Indonesia oleh MSCI.
Sentimen ekonomi global dan kondisi fundamental domestik.
Dengan banyaknya faktor tersebut, menjadi sangat sulit menyimpulkan bahwa penurunan IHSG hanya disebabkan oleh pidato Presiden.
Korelasi Bukan Berarti Sebab-Akibat
Dalam dunia statistik terdapat prinsip yang sangat penting:
Correlation does not imply causation
Artinya, dua kejadian yang terjadi pada waktu yang sama belum tentu memiliki hubungan sebab-akibat.
Sebagai contoh, jika setiap kali turun hujan penjualan payung meningkat, bukan berarti penjualan payung menyebabkan hujan. Keduanya hanya terjadi bersamaan karena dipengaruhi faktor lain.
Hal yang sama berlaku pada fenomena pidato Presiden dan pergerakan IHSG.
Pandangan Teori Pasar Modal
Teori Efficient Market Hypothesis (EMH) yang dikembangkan Eugene F. Fama menjelaskan bahwa harga saham mencerminkan seluruh informasi yang dianggap relevan oleh investor.
Sementara itu, teori mengenai political uncertainty menyebutkan bahwa peristiwa politik memang dapat meningkatkan volatilitas pasar. Namun dampaknya bergantung pada isi kebijakan, kondisi ekonomi, serta sentimen investor, bukan semata-mata karena seseorang sedang berpidato.
Sikap OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga beberapa kali mengingatkan agar investor tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat.
Investor disarankan tetap memperhatikan:
Fundamental perusahaan.
Kondisi ekonomi makro.
Kebijakan moneter.
Risiko investasi jangka panjang.
Pendekatan tersebut jauh lebih rasional dibanding hanya menghubungkan naik-turunnya IHSG dengan satu peristiwa tertentu.
Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan sederhana menggunakan pendekatan event study, memang terdapat beberapa momen ketika pidato Presiden Prabowo Subianto bertepatan dengan pelemahan IHSG.
Namun hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa pidato Presiden merupakan penyebab langsung turunnya pasar saham Indonesia.
Kemungkinan besar, pergerakan IHSG merupakan hasil kombinasi dari berbagai faktor ekonomi global maupun domestik yang terjadi secara bersamaan.
Karena itu, fenomena ini lebih tepat disebut sebagai korelasi temporal, bukan hubungan sebab-akibat.
Ke depan, analisis yang lebih komprehensif dengan data yang lebih panjang dan metode statistik seperti regresi multivariat akan memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai seberapa besar pengaruh pidato Presiden terhadap pasar modal Indonesia.