Berita

Wednesday, 15 July 2026

13

Kata "Bajingan" dalam Pidato Prabowo Jadi Sorotan, Sebenarnya Apa Arti dan Asal Usulnya?

Kata "Bajingan" dalam Pidato Prabowo Jadi Sorotan, Sebenarnya Apa Arti dan Asal Usulnya?

Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Koperasi Nasional 2026 menjadi perhatian publik setelah ia beberapa kali mengucapkan kata "bajingan". Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan bahwa setiap partai memiliki banyak patriot, tetapi juga ada "bajingannya". Ia bahkan sempat bertanya kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah apakah seorang presiden boleh mengucapkan kata tersebut dalam pidato resmi.

Pernyataan itu langsung memicu berbagai tanggapan. Ada yang menganggapnya sebagai gaya bicara yang lugas, sementara sebagian lainnya menilai kata tersebut kurang pantas digunakan dalam acara kenegaraan.

Apa Arti Kata Bajingan?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bajingan memiliki dua makna utama:

  • Penjahat atau pencopet.

  • Kata makian atau umpatan yang ditujukan kepada seseorang yang dianggap kurang ajar atau berperilaku buruk.

Dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia saat ini, kata "bajingan" umumnya dipahami sebagai kata makian dengan konotasi negatif.

Apakah Bajingan Termasuk Kata Kasar?

Secara umum, ya.

Meskipun tingkat kekasarannya bisa berbeda tergantung daerah, budaya, dan situasi, kata "bajingan" termasuk ungkapan yang bernada menghina atau merendahkan seseorang. Karena itu, kata ini biasanya tidak digunakan dalam percakapan formal, pidato resmi, atau komunikasi profesional.

Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan bahwa menurut pandangannya kata tersebut bukanlah kata yang terlalu kasar dan menyebutnya sebagai bagian dari bahasa Betawi yang spontan keluar saat ia berbicara dengan semangat. Pendapat tersebut merupakan penjelasan pribadi beliau dan tidak mengubah fakta bahwa dalam penggunaan umum masyarakat Indonesia, kata "bajingan" tetap sering dianggap sebagai kata kasar.

Dari Mana Asal Usul Kata Bajingan?

Menariknya, kata "bajingan" ternyata tidak selalu bermakna negatif.

Dalam sejarah budaya Jawa, bajingan merupakan sebutan bagi kusir atau pengemudi gerobak sapi yang mengangkut hasil panen maupun barang dagangan. Profesi ini sudah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Islam dan menjadi bagian penting dari sistem transportasi masyarakat pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu, makna kata tersebut mulai berubah.

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, gerobak sapi dikenal berjalan lambat sehingga masyarakat sering mengeluh. Dari sinilah kata "bajingan" perlahan bergeser menjadi ungkapan kekesalan, lalu berkembang menjadi kata makian seperti yang dikenal sekarang. Pergeseran makna semacam ini sebenarnya cukup umum terjadi dalam perkembangan bahasa.

Mengapa Kata Ini Menjadi Viral?

Viralnya kata "bajingan" bukan hanya karena artinya, tetapi juga karena diucapkan oleh seorang presiden dalam forum resmi. Banyak masyarakat kemudian mencari tahu apakah kata tersebut memang tergolong kasar dan bagaimana sejarahnya.

Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa satu kata dapat memiliki sejarah panjang, tetapi juga mengalami perubahan makna sesuai perkembangan budaya dan cara masyarakat menggunakannya.

Beragam Tanggapan atas Pidato Prabowo

Penggunaan kata "bajingan" oleh Presiden Prabowo dalam pidato resmi memunculkan beragam reaksi dari masyarakat. Sebagian menilai gaya bahasa tersebut menunjukkan karakter Prabowo yang dikenal lugas dan apa adanya ketika menyampaikan kritik terhadap oknum, bukan kepada seluruh anggota partai politik.

Namun, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa penggunaan kata tersebut kurang tepat diucapkan dalam forum kenegaraan. Menurut mereka, seorang presiden diharapkan menggunakan diksi yang lebih santun karena setiap ucapan dalam pidato resmi memiliki nilai simbolis dan menjadi perhatian publik.

Sejumlah pengamat komunikasi politik juga memberikan pandangan yang beragam. Ada yang menilai penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami dapat membuat pesan lebih dekat dengan masyarakat. Di sisi lain, ada pula yang mengingatkan bahwa efektivitas komunikasi seorang kepala negara tidak hanya ditentukan oleh ketegasan pesan, tetapi juga oleh pemilihan kata yang mampu menjaga wibawa jabatan serta menghindari penafsiran yang berbeda-beda.

Sementara itu, di media sosial, respons masyarakat juga terbagi. Sebagian pengguna menganggap ucapan tersebut sebagai bentuk kejujuran dan keberanian dalam mengkritik pihak yang dinilai merugikan rakyat. Sebaliknya, sebagian lainnya menilai kata "bajingan" tetap merupakan kata makian yang sebaiknya tidak digunakan dalam pidato resmi, meskipun ditujukan kepada oknum tertentu.

Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya memperdebatkan isi pidato, tetapi juga menyoroti bagaimana seorang pemimpin memilih kata dalam menyampaikan pesannya. Di sisi lain, peristiwa ini juga membuat banyak orang kembali mencari tahu arti, sejarah, dan perkembangan makna kata "bajingan" dalam bahasa Indonesia.

Kesimpulan

Kata "bajingan" awalnya merupakan nama sebuah profesi, yaitu pengemudi gerobak sapi dalam budaya Jawa. Namun, seiring perubahan zaman, maknanya bergeser menjadi kata makian yang digunakan untuk menyebut orang yang dianggap jahat, licik, atau kurang ajar.

Karena konotasinya saat ini cenderung negatif, kata tersebut umumnya dianggap kurang pantas digunakan dalam komunikasi formal. Meski demikian, kemunculannya dalam pidato Presiden Prabowo membuat banyak orang kembali mengenal sejarah dan perubahan makna kata yang telah mengalami perjalanan panjang dalam bahasa Indonesia.

Aira

Aira

@airaalesyha

Menulis sudah menjadi salah satu cara saya berbagi hal-hal yang saya pelajari. Saya suka mengemas informasi menjadi artikel yang ringan dan jelas.

Follow me

Artikel terkait

Komentar

(0)

Login untuk berkomentar.

ershanotes

Menghadirkan berita terbaru seputar politik, ekonomi, dan gaya hidup — cepat, akurat, dan terpercaya.

Telp: (0517)32016

Email: email@mail.ersha.my.id

Indeks

Beranda

Informasi

Program

Pelayanan

Kontak

Tambahan

Penghargaan

Berita

Profil

Pengaduan

Galeri

Newsletter

Dapatkan pembaruan terkini seputar Kabupaten Tapin dengan bergabung bersama kami.

ERSHANOTES - seputar politik, ekonomi, dan gaya hidup

© Copyright 2026 All rights reserved. yes, all of them