Indonesia memang negeri yang unik. Dulu kita sibuk mencari siapa penjajahnya, sekarang kita sibuk mencari siapa "Londo Ireng"-nya. Bedanya, kalau dulu penjajah datang naik kapal, sekarang cukup datang membawa kritik, lalu sebagian orang sudah siap mengangkat papan nama: "Nah, itu dia!"
Dalam pidato Presiden Prabowo di Harlah PKB, istilah "Londo Ireng" kembali muncul ke permukaan. Sebuah istilah tua yang lahir dari zaman kolonial, kini diberi napas baru di tengah riuh politik modern.
Yang menarik bukan hanya istilahnya, tetapi bagaimana istilah itu langsung berubah menjadi kaca pembesar. Tiba-tiba semua orang saling menunjuk. Yang mengkritik pemerintah dituduh pesimis. Yang membela pemerintah dituduh menjilat. Seolah-olah tidak ada ruang di antara dua kutub itu.
Padahal demokrasi seharusnya bukan lomba mencari musuh, melainkan perlombaan mencari solusi.
Kritik: Vitamin atau Virus?
Dalam pidatonya, Presiden menegaskan pemerintah tidak antikritik. Kalimat yang tentu patut diapresiasi.
Namun, publik kemudian bertanya-tanya: jika kritik memang diperlukan, kapan sebuah kritik berhenti menjadi kritik dan mulai dianggap sebagai "Londo Ireng"?
Apakah saat kritik itu tidak enak didengar?
Apakah saat data yang dibawa terlalu menyakitkan?
Ataukah ketika kritik itu datang dari orang yang memang tidak disukai?
Di sinilah letak persoalannya. Dalam demokrasi, kritik memang tidak selalu nyaman. Kalau semua kritik terdengar manis, mungkin namanya bukan kritik, melainkan sambutan pembukaan acara.
Bahaya Label yang Terlalu Murah
Sejarah mengajarkan bahwa memberi label kepada orang lain selalu lebih mudah daripada menjawab isi argumennya.
Daripada membantah data, lebih cepat menyebut lawan "antek asing".
Daripada menjelaskan kebijakan, lebih praktis menuduh pengkritik sebagai "Londo Ireng".
Padahal, logika tidak pernah kalah hanya karena lawannya diberi julukan.
Kalau seseorang salah, bantahlah dengan fakta. Kalau datanya keliru, luruskan dengan bukti. Sebab label tidak pernah bisa menggantikan argumentasi.
Nasionalisme Tidak Diukur dari Volume Tepuk Tangan
Mencintai Indonesia bukan berarti selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Sebaliknya, membenci Indonesia juga tidak otomatis terjadi hanya karena seseorang menunjukkan kekurangannya.
Dokter yang mengatakan pasiennya sakit bukan berarti membenci pasien. Justru karena ingin pasien sembuh, penyakit harus didiagnosis dengan jujur.
Negara pun demikian.
Kadang kritik adalah bentuk kepedulian yang paling keras.
Demokrasi Bukan Ruang Gema
Demokrasi menjadi sehat ketika pemerintah berani menerima kritik dan masyarakat juga bersedia menerima jawaban.
Yang berbahaya adalah ketika setiap kritik dianggap permusuhan, sementara setiap pujian dianggap patriotisme.
Kalau ukuran cinta tanah air hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang bertepuk tangan kepada pemerintah, maka demokrasi perlahan berubah menjadi ruang gema: hanya suara yang menyenangkan telinga penguasa yang boleh diperdengarkan.
Penutup
Istilah "Londo Ireng" memiliki sejarah panjang sebagai metafora tentang keberpihakan pada kepentingan asing. Namun di era modern, penggunaannya menuntut kehati-hatian. Sebab kata-kata yang lahir sebagai simbol sejarah dapat berubah menjadi cap politik yang menutup ruang dialog.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak akan maju karena semakin pandai memberi julukan kepada sesama anak bangsa. Bangsa ini maju ketika setiap kritik dijawab dengan karya, setiap data dibalas dengan data, dan setiap perbedaan pendapat tidak otomatis dianggap sebagai pengkhianatan.
Karena dalam demokrasi, lawan dari kritik bukanlah kemarahan—melainkan argumentasi yang lebih baik.