Ambivert Itu Apa? Kenapa Banyak Orang Merasa Paling Cocok dengan Istilah Ini

Umum

Tuesday, 21 July 2026

Keisha Celinena

Keisha Celinena

@keishacelinena

0

Ambivert Itu Apa? Kenapa Banyak Orang Merasa Paling Cocok dengan Istilah Ini

Ambivert adalah istilah yang terasa sangat akrab karena ia menjelaskan sesuatu yang banyak orang rasakan, tetapi tidak selalu mudah diberi nama: kadang ingin ramai, kadang ingin diam. Dalam literatur psikologi yang saya temukan, ambiversion diposisikan sebagai titik tengah pada spektrum introversi–ekstroversi, bukan sebagai kotak yang terpisah sepenuhnya. Petric merumuskannya dengan sederhana:

Ambiversion is somewhere near the half-way mark between two extremes.

(Open Journal of Medical Psychology, 2022)

Itulah daya tarik istilah ini. Orang sering mengira kepribadian sosial itu cuma dua pilihan, introvert atau ekstrovert. Padahal, banyak orang tidak hidup di ujung mana pun. Mereka bisa sangat komunikatif di kantor, lalu pulang dan menutup pintu untuk mengisi ulang tenaga. Mereka bisa tampil percaya diri di acara besar, lalu menikmati sore yang sunyi tanpa merasa ada yang salah. Ambivert memberi bahasa untuk pola yang lentur seperti itu.

Kalau kita lihat sejarah konsepnya, ide tentang “tengah-tengah” ini sudah lama muncul. Sebuah studi klasik pada skor tengah dimensi introversi–ekstroversi membedakan dua kelompok: satu kelompok yang ambivalent, dengan dorongan introversif dan ekstroversif yang sama-sama kuat, dan satu kelompok yang benar-benar midrange. Para penulisnya bahkan menyimpulkan bahwa

at least two groups are posited in the midrange of the IE dimension: an ambivalent group with mixed strong introversive and extraversive tendencies, and an ambiverted group with midrange scores.

(Journal of Personality Assessment, 1979)

Jadi, bahkan di “tengah”, ternyata tidak semua orang tengahnya sama.

Masalahnya, istilah ambivert kadang dipakai terlalu gampang di internet. Seolah-olah ia berarti “punya dua sisi” dan itu saja cukup. Padahal, dari sisi riset, ambivert lebih berguna kalau dipahami sebagai cara orang mengatur energi sosial. Ada orang yang memang cenderung menyesuaikan diri dengan konteks: ketika situasinya menuntut, ia bisa aktif; ketika suasananya tidak mendukung, ia bisa mundur tanpa merasa gagal. Dalam bahasa sehari-hari, ambivert sering terasa seperti orang yang tahu kapan harus “on” dan kapan harus “off”.

Salah satu studi yang paling sering dikutip tentang ambivert datang dari dunia kerja. Grant melaporkan bahwa pada 340 pekerja call-center outbound, hubungan antara ekstraversi dan pendapatan penjualan berbentuk kurva terbalik; justru skor tengah yang paling produktif. Abstract-nya merangkum hasil itu begini:

A study of 340 outbound-call-center representatives supported the predicted inverted-U-shaped relationship between extraversion and sales revenue.

(Psychology Science, 2013) poin pentingnya bukan bahwa ambivert pasti jago jualan. Poinnya adalah bahwa performa sosial tidak selalu naik lurus seiring makin ekstrovert. Kadang, fleksibilitas dan kemampuan mendengar memberi keuntungan yang tidak dimiliki ujung spektrum mana pun.

Ada juga bukti biologis yang kecil, walau tentu belum cukup untuk membuat kesimpulan besar. Dalam studi EEG, penulis melaporkan bahwa ambiversion memengaruhi komponen N1 dan P3 pada pemrosesan informasi. Mereka menulis bahwa

our data revealed activation differences in sensory and cognitive information processing related to extraversion and the ERP analysis confirmed that the personality characteristic ambiversion influences the N1 and P3 amplitudes of ERP components.

(Acedemic Paper S. Georgiev, C. Christov, and D.philipova 2014) Ini menarik karena menunjukkan bahwa ambiversion bukan hanya label bahasa sehari-hari; setidaknya dalam sampel kecil ini, ada jejak yang bisa diukur. Tapi karena studinya kecil, ia lebih cocok dibaca sebagai petunjuk awal daripada bukti final.

Di sisi lain, tidak semua studi mendukung gagasan bahwa ambivert punya pola psikologis yang khas dalam setiap konteks. Dalam survei COVID-19 terhadap 203 partisipan, faktor kepribadian tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada skor depresi dan kecemasan. Ringkasan hasilnya menyebut,

personality factors however, did not show any significant differences in the anxiety and depression scores.

(Academic paper R. Shukla, T. Chandra 2020) Artinya, menjadi ambivert bukan jimat mental yang otomatis membuat seseorang lebih tahan stres, lebih bahagia, atau lebih sehat. Ia tetap hanya salah satu cara orang mengatur diri dalam hidup sosial.

Di sinilah blog yang bagus tentang ambivert sebaiknya jujur. Ambivert bukan superpower, juga bukan sekadar tren TikTok. Istilah ini berguna karena membantu kita berhenti memaksa orang masuk ke dua kotak yang terlalu sempit. Ia mengingatkan bahwa kepribadian sosial itu bisa cair, kontekstual, dan situasional. Seseorang bisa sangat nyaman berbicara di depan audiens, tetapi kehabisan energi setelahnya. Orang yang sama bisa tampak pendiam dalam kelompok asing, lalu menjadi sangat hidup di ruang yang aman dan akrab.

Kalau ditulis dengan bahasa yang sederhana, inti ambivert adalah ini: kamu tidak harus selalu memilih antara “suka keramaian” atau “suka sendiri”. Banyak orang beroperasi di antara keduanya, dan itu normal. Bahkan, mungkin justru di situlah letak adaptasi yang paling realistis. Ambivert mengingatkan kita bahwa kepribadian bukan panggung dengan dua lampu sorot, melainkan volume yang bisa dinaikkan atau diturunkan sesuai keadaan.

Keisha Celinena

Keisha Celinena

@keishacelinena

Menikmati proses mencari, mempelajari, lalu membagikan informasi lewat tulisan. berusaha menghadirkan artikel yang ringan, mudah dipahami, dan bermanfaat untuk siapa saja yang membacanya.

Follow me

Artikel terkait

Komentar

(0)

Login untuk berkomentar.

ershanotes

Menghadirkan berita terbaru seputar politik, ekonomi, dan gaya hidup — cepat, akurat, dan terpercaya.

Telp: (0517)32016

Email: email@mail.ersha.my.id

Indeks

Beranda

Informasi

Program

Pelayanan

Kontak

Tambahan

Penghargaan

Berita

Profil

Pengaduan

Galeri

Newsletter

Dapatkan pembaruan terkini seputar Kabupaten Tapin dengan bergabung bersama kami.

ERSHANOTES - seputar politik, ekonomi, dan gaya hidup

© Copyright 2026 All rights reserved. yes, all of them